Warning: call_user_func_array() expects parameter 1 to be a valid callback, no array or string given in /home/kabkup01/public_html/kupang2010/2010/wp-includes/class-wp-hook.php on line 298

Budaya Timor

KEADAAN UMUM

Masyarakat Timor yang merupakan penduduk Kabupaten Kupang dan berkebudayaan Dawan yang sama dengan masyarakat Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan. Daerah Amarasi terletak dibagian Selatan Kabupaten Kupang. Wilayah Amfoang terletak disebelah Utara Teluk Kupang. Yang mudah dicapai dari Kupang dengan kendaraan umum. Kecamatan Amfoang Utara dan Selatan mudah dijangkau pada musim kering dengan kendaraan beroda empat atau berperahu motor menyeberangi teluk Kupang.

PELAPISAN SOSIAL

Sistem kemasyarakatannya masih tetap dipertahankan sesuai derajat keberadaan seseorang. Lapisan teratas disebut Amaf (bangsawan), Too (rakyat biasa) dan Atupas (dewan) serta Ata (budak). Sekarang tidak ada lagi Ata. Masyarakat lebih mengenal Atupas untuk gelar-gelar Kaiser/kesel. Raja pada umumnya kaya sebagai pemilik tanah sedangkan pekerjaan setiap hari dilakukan oleh Moen Leun Atoin Leun. Moen kemudian menyerahkan lagi pada Amaf. Amaf dapat terdiri atas Klen besar yang membawahi suku kecil lainnya.

Dalam bidang Pemerintahan Amaf bertugas mengurusi pertanahan yang disebut Tobe. Proses penyerahan tanggungjawab dari Kaiser/Atupas kepada para Moen Leun didahului upacara Pilu Mai Soi dengan pemberian tanda benda-benda, muti, plat perak, tongkat. Setiap tahun raja menerima Mau Safa/Hu Sufa (Upeti) yang diantar oleh para Moen Leun dan Amaf Tobe.

Fungsi Tobe sebagai kaki tangan raja pada lapisan bawah cukup kuat, sehingga kedalam ia berfungsi mengatur pemakaian tanah, mengurus Upeti, memelihara tempat ibadah dan fungsi keluar memberikan ijin kepada orang lain termasuk mengatur bagian Mau sufa kepada raja.

Putri raja yang kawin keluar kerajaan, mempunyai hak mendapat tanah sebagai hadiah yang disebut Susu Lehu. Demikian juga mereka yang berjasa kepada kerajaan (menang perang) mendapat hadiah tanah yang dinamakan Upat Fuat Bus Ken Nafu.

Strata sosial ini tidak berbeda dengan wilayah Dawan lainnya yakni Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan.

MATA PENCAHARIAN

Kehidupan masyarakat Amarasi pada umumnya beternak. Mereka cukup dikenal dengan sistem Paron, dan menjadi pemasok ternak sapi potong keperluan antar Pulau. Sistem paron di Amarasi didukung program pelamtoroan (Lamtoronisasi). Selain beternak, mereka juga menjadi petani ladang dengan sistem huma.

SISTEM RELIGI

Sebagian besar penduduk Amarasi dan Amfoang menganut agama kristen protestan. Meskipun demikian, kepercayaan mereka terhadap wujud tertinggi tetap melekat nampak pada upacara dan ritus yang dipertahankan sampai sekarang.
Masyarakat mengenal wujud tertinggi yan disebut Usi Neno. Usi artinya Tuan atau Raja tertinggi. Neno artinya hari atau langit. Usi Neno artinya raja yang mengatasi hari dan langit. Ia pencipta segala sesuatu termasuk manusia. Ia menjadi sumber asal dari segala yang ada. Usi Neno adalah sumber (suprema), berbeda dengan Usi Pah atau Usi Fah Najian yang melahirkan segala seusatu dan penguasa bumi.
Sistem religi ini tidak berbeda dengan wilayah Dawan lainnya yakni Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan.

BAHASA

Bahasa yang digunakan suku-suku Amarasi maupun Amfoang adalah bahasa Dawan yang keseluruhan strukturnya sama dengan yang dimiliki masyarakat Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan.

WUJUD KESENIAN

Wujud kesenian merupakan ungkapan rasa manusia dalam pelbagai karya seni yang bisa dinikmati selain diri sendiri tetapi ungkapan itu dapat diterima oleh orang lain. Dalam wilayah kebudayaan Dawan ynag juga mencakup ketiga Kecamatan ini wujud kesenian dikenal dalam bentuk tenunan, anyam-anyaman, tarian dan lagu-lagu rakyat.

Tenunan Amarasi maupun Amfoang dapat dikelompokan dala jenis Songket atua Futus dan Sotis/Lotis. Bahan baku pewarna dari mengkudu, nila dan kunyit. Motif tenunan anatara lain kembang dengan warna dasar coklat misalnya dapat terlihat di Amarasi, sedangkan di Amfoang maupun sebagian Fatuleu tenunannya termasuk tenunan Lotis/Sotis dengan motif kembang dan warna dasar merah dengan kuning.

 

Tenunan yang dikerjakan wanita itu umumnya dibuat dalam bentuk selendang ganda, kemudian disambung menjadi sarung bagi wanita. Sedangkan untuk pria, tenunan ganda itu disambung dengan tenunan putih polos ditengahnya.
Wujud kesenian lauinnya merupakan kerajinan tangan misalnya anyaman tas jinjing (kepisak) dengan bentuk dasar persegi empat dengan kembang geometris, kadang-kadang disertai biji muti sebagai penghiasnya. Kepisak ini sangat berguna untuk kaunp pria sebagai pengisi uang dan sirih pinang.

Beberapa lagu rakyat yang terkenal di wilayan kebudayaan Dawan Baik Amarasi maupun Amfoang antara lain lagu Kolo Koak (burung koak) merupakan tarian sebagai sindirin untuk para gadis/pemuda. Untuk acara ini beberapa lagu rakayat juga ikut dinyanyikan misalnya Ana Peto Mese (putri tunggal). Tebe Ona Nan (benar demikian), Taika Pis Bes (lidah seperti udang), Ku Umtan Kukken (aku takut).

Tarian-tarian untuk tandak (tarian melingkar) antara lain berupa tarian Bonet/ Hering. Basan (sambutan penghormatan dengan syair doa), Kolo Oto Meno (perkutut sakti), Skati Tuta Timor (mulai fajar menyambut), Bauk Sala, Huisai Salele, Fatu Katili yang umumnya dilagukan waktu fajar menyising.

 

   

Irama lagu-lagu baik lagu solo maupun untuk mengiringi tari-tarian umumnya irama mars, gertak dengan hentakan kaki dan pekikan yang gempita sebagai lambang rasa gembira.

Powered by Kab.Kupang | Find Free wordpress themes 2012 | Thanks to Photo Printers, Premium Themes and