Warning: call_user_func_array() expects parameter 1 to be a valid callback, no array or string given in /home/kabkup01/public_html/kupang2010/2010/wp-includes/class-wp-hook.php on line 298

Daerah Perbatasan di Kabupaten Kupang

KARAKTERISTIK WILAYAH PERBATASAN

Kabupaten Kupang memiliki 4 Kecamatan yang berbatasan darat dengan negara Australia dan 1 Kecamatan berbatasan darat dan laut dengan Distrik Ambenu Negara Timor Leste.
Adapun kecamatan-kecamatan yang berbatasan langsung dengan kedua negara tersebut sebagai berikut :

Kecamatan Amfoang Timur berbatasan langsung dengan Distrik Ambenu Negara Timor Leste.
Kecamatan Amarasi Timur, Amarasi Selatan dan Amarasi Barat berbatasan wilayah laut dengan Negara Australia.

KEADAAN PENDUDUK DAERAH PERBATASAN

Jumlah Penduduk

Jumlah Penduduk Kecamatan Amfoang Timur 6.027 jiwa, Amarasi Timur 6.311 jiwa, Amarasi Selatan 9.735 jiwa, Amarasi Barat 13.469 jiwa.
Mata pencaharian penduduk

Mata pencaharaian penduduk di kecamatan Amfoang Timur, Amarasi Timur, Amarasi Selatan, Amarasi Barat, pada umumnya pada sektor pertanian dan peternakan , sedangkan sebagian kecilnya terdiri dari Pegawai Negeri Sipil,ABRI,Pedagang dan Nelayan.
Sekilas info tentang Sejarah Perbatasan Timor Leste dan Daerah Amfoang (Wilayah Indonesia)

Sesuai dengan penuturan sejarah dari Tokoh Masyarakat Amfoang Timur, bahwa batas wilayah antara Kerajaan Amfoang dan Kerajaan Ambenu (Perjanjian Portugal dan Belanda) terletak di Noelbesi. Pengertian Noelbesi adalah Kali Besar, nama kali tersebut sudah di kenal masyarakat wilayah perbatasan dari kedua Kerajaan sejak dahulu kala.

Dijelaskan juga oleh masyarakat bahwa pada kali Noelbesi terdapat tiga pilar yang merupakan Pilar batas Kerajaan dimana Pilar-pilar tersebut yang pertama terletak di muara sungai Noelbesi (Kolam Besak), Pilar yang kedua terletak di pertigaan Noelbesi dan Nononna, sedangkan Pilar yang ketiga terletak di Hulu Sungai Noelbesi tepat di Bijaelsunan wilayah Miomafo yang sekaligus merupakan batas Kerajaan antara Kerajaan Miomafo dan Kerajaan Ambenu.

Batas antara Kerajaan tersebut tetap di patuhi oleh kedua kelompok masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan. Kepatuhan tersebut di tandai dengan hubungan yang erat /kekeluargaan melalui Upacara Ritual yang bertempat di Nakuta. Upacara tersebut dilaksanakan apabila terjadi perselisihan/kesalahpahaman diantar kedua kelompok masyarakat di dua Kerajaan tersebut. Pada dasarnya masyarakat di wilayah perbatasan mengakui bahwa Noelbesi merupakan batas Kerajaan yang di tandai dengan pilar batas sebagaimana tersebut diatas.

Periode tahun 1976 sampai dengan tahun 1999 dengan terintegrasi wilayah Timor-timur ke wilayah Indonesia yang merupakan Propinsi ke 27 dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka aktifitas masyarakat perbatasan lebih leluasa karena batas wilayah yang merupakan batas kerajaan tidak lagi menjadi hambatan prosedural, hal ini juga berpengaruh pada pemanfaatan ruang yang kurang efisien di sekitar kali Noelbesi. Dampak dari penggunaan tersebut maka terjadilah gerusan pada pinggir-pinggir kali Noelbesi sehingga tanda-tanda batas kerajaan yang berada di pinggir kali tersebut hilang tanpa bekas. Namun satu pilar yang masih tersisa terletak pada muara kali Noelbesi tepatnya Kolam Besak.

Pada tahun 1999 pasca Kemerdekaan Negara Timor Leste maka aktifitas masyarakat perbatasan terhenti, sehingga masyarakat tidak seenaknya masuk – keluar wilayah perbatasan melainkan harus melapor pada Po-pos Penjagaan yang terletak pada ke 2 wilayah.

SOSIAL BUDAYA KAWASAN PERBATASAN DI AMFOANG


Kondisi Sosial Budaya penduduk Kecamatan Amfoang Timur tidak jauh berbeda dengan masyarakat di wilayah Ambenu (Negara Timor Leste). Berdasarkan penuturan sejarah dari Tokoh Adat masyarakat Netemnanu Utara, penduduk Distrik Ambenu (Negara Timor Leste) merupakan bagian atau masih memiliki hubungan kekeluargaan. Kondisi ini dapat di buktikan melalui Upacara Adat-istiadat yang sama dan juga pada acara-acara perkawinan.

Pada setiap tahun sebelum terjadi gejolak Kemerdekaan tahun 1999, prosesi adat pasca panen masih tetap dilaksanakan dalam bentuk upacara-upacara adat untuk mempererat hubungan kekeluargaan. Untuk mempererat hubungan kekeluargaan tersebut maka masyarakat Amfoang menyerahkan sebagian lahan di Naktuka kepada masyarakat Ambenu, namun setelah pasca kemerdekaan Timor Leste maka kegiatan tersebut terhenti di sebabkan oleh penjagaan yang ketat oleh ke 2 Negara.

Kecamatan Amfoang Timur merupakan Kecamatan yang aksesnya cukup sulit, hal ini disebabkan oleh karena lokasi yang jauh dari Kota Kupang serta kondisi geografisnya yang tidak menguntungkan. Kondisi ini menyebabkan transportasi melalui darat sangat sulit karena harus melewati banyak sungai yang belum dilengkapi dengan fasilitas jembatan yang memadai. Akibat dari akses yang sulit ini menyebabkan tingkat kesejahteraan masyarakat Amfoang Timur masih rendah
.
Aksesibilitas

Aksebilitas ke kawasan Perbatasan dan dalam kawasan perbatasan menggunakan transportasi darat dan transportasi laut :
a. Transportasi darat
– Panjang jalan di Kabupaten Kupang adalah 1.270,10 Km terdiri dari : jalan Negara 65.10 Km, jalan propinsi : 438, 11 km, jalan kabupaten 766,89 km.
– Panjang jalan menuju kawasan perbatasan :
Oelmasi- Naikliu-Oepoli ( jalan Propinsi) : 151 km dengan rincian :
Panjang jalan menuju kawasan perbatasan :
Oelmasi – Naikliu-Oepoli ( Jalan Propinsi) : 151 km dengan rincian : kondisi baik, 11 km dan rusak berat 140 km.
Pada ruas jalan Oelmasi-Naikliu-Oepoli terdapat 81 sungai.
Belum ada jembatan 34 buah, sudah ada jembatan 47 buah ( kondisi baik 35 buah, rusak berat 12 buah).
– Panjang jalan sepanjang perbatasan yang menghubungkan desa Netemnanu Utara ( Oepoli) ke Kabupaten TTU dan TTS adalah sepanjang 40 Km yang merupakan ruas jalan kabupaten, dengan sungai sebanyak 3 buah dan belum ada jembatan.
b. Transportasi Laut.

Transportasi Laut dalam kawasan perbatasan yaitu antara Desa Netemnanu Utara ( Oepoli) dengan Pulau Batek Kecamatan Amfoang Timur tidak ada sehingga Pulau Batek menjadi terisolir.
KECAMATAN-KECAMATAN KAWASAN PERBATASAN

1. Kecamatan Amfoang Timur
– Secara geografis Kecamatan Amfoang Timur berbatas dengan :
– Sebelah Utara berbatasan dengan Distrik Oekusi Negara Timor Leste dan Laut Sabu
– Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Amfoang Selatan
– Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten TTU
– Sebelah Barat berbatasan dengan Kec. Amfoang Utara
Luas wilayah Kecamatan Amfoang Timur seluas 273,03 km².
2. Kecamatan Amarasi Timur, Amarasi Barat dan Amarasi Selatan.
Secara geografis Kecamatan Amarasi Timur berbatasan dengan :
– Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Amabi Oefeto Timur.
– Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Timor.
– Sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten Timor Tengah Selatan.
– Sebelah Barat dengan Kecamatan Amarasi Selatan. Dengan luas wilayah kecamatan Amarasi Timur 162,92 Km²,
3.Kecamatan Amarasi Selatan berbatasan dengan :
Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Kecamatan Amarasi.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Timor.
Sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten Kecamatan Amarasi Timur
Sebelah Barat dengan Kecamatan Amarasi Barat. Dengan luas wilayah kecamatan Amarasi Selatan 172.71 Km²,4. Kecamatan Amarasi Barat berbatasan dengan :
Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Kupang Tengah
Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Timor.
Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Amarasi Selatan
Sebelah Barat dengan Nekamese. dengan luas wilayah kecamatan Amarasi Barat adalah 246,47 Km².

SEKILAS TENTANG PULAU BATEK

Pulau Batek terletak diwilayah kecamatan Amfoang Utara, pulau ini sempat diklaim oleh Timor Leste sebagai bagian teritorinya karena letaknya yang tak jauh dari Oekusi, sebuah distrik di Timor Leste. Pulau Batek tampak dari samping dan pulau ini sering dimanfaatkan oleh aparat TNI AL untuk latihan menembak, Pemerintah Kabupaten Kupang juga sedang merencanakan pengembangan pulau ini untuk menjadi salah daerah tujuan wisata.

Secara Hukum Pulau Batek merupakan Hak Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi pengalaman Pulau Sepadan Dan Ligitan perlu kita waspadai, sehingga kegiatan di atas Pulau Batek tersebut harus mendapatkan perhatian yang serius. Pemerintah Kabupaten Kupang dalam segala keterbatasan telah mengupayakan agar berbagai upaya pembangunan yang telah dilakukan saat ini sebagai berikut :

– Pembangunan Menara Suar
– 1 Unit Rumah Kopel
– Rumah Genset
– Pembangunan Rumah Kepala Suar
– Selain itu pula telah dilepas Hewan dan Ternak Unggas, berupa : Kambing, Kera dan Ayam Hutan

Dan pada tahun 2005 Pemkab Kupang telah melakukan kegiatan sebagi berikut :
– Pembangunan Dermaga
– Alat Komunikasi
– Tangga Naik Pulau Batek
– Rumah Peritrirahatan
– Mobil Tangki dan Tangki Air
– Pembuatan Sumur Bor
– Konservasi Lingkungan
– Rencana Tehnik Tapak Kawasan Wisata Pulau Batek
Powered by Kab.Kupang | Find Free wordpress themes 2012 | Thanks to Photo Printers, Premium Themes and